Web Toolbar by Wibiya

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 07 April 2011

Kritik Pendidikan



Meski mewarisi sistem kolonial, pendidikan kita dibangun dan dibesarkan dalam tradisi kritik nasionalis.

Pendiri Sarekat Islam, Taman Siswa, Muhammadiyah, dan sekolah-sekolah yang dikategorikan ”liar” oleh pemerintah kolonial menyandarkan keberhasilan perjuangan politik pada ketangguhan kritik yang dibangun. Kritik menjadi kekuatan perlawanan atas sistem pendidikan yang hegemonik, diskriminatif, dan hanya terpaku pada misi reproduksi kelas sosial.

Tradisi kritik yang tangguh itu kini luntur atau bahkan lenyap. Indikasinya, semakin deras kritik dilontarkan atas suatu kebijakan pendidikan, semakin keukeuh kebijakan dipertahankan. Indikasi ini memiliki dua dimensi. Sikap pembuat kebijakan yang amat kenyal semakin sulit ditembus karena pisau kritik yang tumpul.

Kunci efektivitas kritik adalah campuran verbalitas, frekuensi kritik, dan rasionalitas substansi. Selain itu perlu disadari, ranah se-publik pendidikan adalah ekosistem aneka kepentingan. Implikasinya, tiap kebijakan dan praktik pendidikan pasti bermuatan politis. Kritik pendidikan yang efektif mengandaikan terbukanya ruang kompromi. Sudahkah ini terperhatikan?

Dua hal

Ada dua hal yang mendesakkan kebutuhan akan kritik(us) pendidikan yang tangguh. Pertama, akar krisis pendidikan Indonesia (Kompas online, 21/8/2009) bukan hanya hilangnya political will pemerintah untuk melindungi rakyat dari neoliberalisme, tetapi juga absennya kontrol atas kebijakan melalui kritik tajam dan terukur.

Kedua, jajak pendapat Kompas (24/8/2009) menunjukkan, pemerintahan nanti cenderung sulit dikontrol karena kuatnya koalisi partai dan lemahnya pengawasan. Hal ini mencuatkan penguatan civil society. Bersama elemen masyarakat (mahasiswa dan LSM), kritikus pendidikan ditantang menjalankan fungsi penyeimbang kebijakan publik.

Otokritik

Selama ini kritik pendidikan cenderung menyorot pemerintah secara bias. Pemerintah menjadi faktor sentral pembuatan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Namun, mustahil jika kisruh pendidikan seluruhnya bersumber pada pemerintah.

Pemerintah yang mana? Dalam anggaran pendidikan, pemerintah pusat dan daerah senapas desentralisasi dan otonomi. Ujian nasional adalah kebijakan pusat, tetapi juga harus disebut Badan Standar Nasional Pendidikan dan mungkin dinas pendidikan di daerah.

Sertifikasi guru diatur pemerintah pusat. Namun, dalam beberapa kasus, seperti terlihat pada surat pembaca, kepala sekolah bertindak sebagai ”pemerintah”, meramaikan proses sertifikasi.

Kedua, kritik sering mengabaikan karakter politis pendidikan sebagai ekosistem aneka kepentingan. Dalam hal ujian nasional dan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, ada arah untuk menolak tanpa kompromi. Artinya, sementara mengkritik paradigma kekuasaan, penolakan tanpa kompromi menunjukkan hal yang sama. Perspektifnya win-lost alih-alih win-win.

Ketiga, banyak kritik kering sajian dan kajian data, mengemuka hanya sebagai wacana. Ini bisa diamati dalam berita dan opini di media sepanjang tahun (misalnya menjelang 2 Mei, 17 Agustus, dan 25 November). Forum diskusi pendidikan sering menjadi ajang curahan hati daripada pembahasan secara substantif.

Keringnya sajian dan kajian data membuat kritik gagal membangun rasionalitas argumen yang, meski politis, berpijak pada kadar obyektivitas tertentu.

Membangun tradisi

Tradisi kritik harus dikembangkan dan kritikus disiapkan. David J Flinders dan Elliot W Eisner (2000) menyebut kritik pendidikan sebagai ”pendekatan yang menghidupkan keragaman dan aneka peluang belajar dalam interaksi dalam ruang kelas”. Sementara itu, Mary Stokrocki (1991) mengurai sebagai a research process of describing, analyzing, interpreting, and evaluating an everyday school activity in order to understand it more fully.

Pemahaman ini cukup untuk keperluan assessment pengajaran, tetapi belum mengakomodasi konsep kritik dalam konteks hubungan warga dan negara. Maka, tumbuhnya tradisi kritik belum dapat diharapkan melalui cabang ilmu pendidikan seperti evaluasi maupun kebijakan pendidikan.

Meski demikian, cara struktural tetap dapat ditempuh, misalnya melalui komponen analisis sosial dalam pengajaran. Juga diperlukan pengenalan lebih luas teks-teks kuliah yang berperspektif filsafati dan historis.

Lembaga penelitian pendidikan perlu dikembangkan sebagai think tank. Bagian litbang media massa dan media kampus digiatkan sebagai penyedia data dan kajian agar berita-berita pendidikan lebih kritis. Berbagai organisasi guru adalah buah reformasi bertumbuhnya kesadaran politik tentang aneka masalah pendidikan.

Kesediaan melakukan otokritik merupakan kunci berkembangnya kritik pendidikan tangguh sebagaimana dilakukan Ki Hadjar Dewantara dan YB Mangunwijaya.

Agus SuwignyoPedagog FIB UGM

Selasa, 25 Mei 2010

Permainan Sederhana untuk Anak

MENJAGA anak tetap aktif adalah salah satu tugas orangtua. Bersama mereka, orangtua bisa mengajaknya bermain dan meski dilakukan di dalam rumah, rasanya tetap menyenangkan.


Saat cuaca cerah, anak bisa bebas bermain sepeda, berlarian di taman, bermain bola, dan sebagainya. Namun saat musim hujan datang, aktivitas tersebut tak lagi bisa dilakukannya. Yang ada di rumah hanyalah permainan monopoli, video games, dan televisi.

Pernahkah para orangtua memikirkan apa yang dirasakannya saat hari libur hanya dihabiskan di rumah, tanpa aktivitas berarti? Kini, kreativitas para orangtua diuji.

Chase Lapine dan Larysa Didio dalam buku "Sneaky Fitness: Fun, Foolproof Ways to Slip Fitness into Your Child's Everyday Life" memaparkan aktivitas-aktivitas untuk anak berbagai umur yang akan mendorongnya selalu aktif setiap hari. "Aktivitas bersama anak-anak ibarat fitness yang bermanfaat untuk kesehatan tubuhnya. Selain sehat, mereka juga ingin bersenang-senang dalam kegiatan bermainnya. Kuncinya, bagaimana cara Anda mengemas dan menyajikannya," papar Lapine.

Sementara Didio mengatakan, aktivitas bermain (bergerak) akan memberikan manfaat besar dalam jangka panjang anak. Berikut tiga aktivitas menyenangkan untuk membuat anak-anak tetap bergerak, sebagaimaan diulas Sheknows.



Melompat

Ada alasan saat orang mengatakan hal baik, "Perhatikan lompatan saat melangkah". Melompat itu hal menyenangkan. Buktinya, orang melompat saat mereka bahagia. Itulah mengapa permainan hip hop sangat baik untuk anak-anak, khususnya anak usia 5-10 tahun.

Cara bermainnya cukup sederhana. Gunakan masking tape atau kapur untuk menggambar garis lompatan di beberapa sudut ruangan yang tidak akan diduga anggota keluarga. Setiap kali ada seorang anggota keluarga yang akan melewati garis tersebut, mereka harus berjingkat.

Mengapa permainan ini baik untuk anak? "Melompat bisa membakar kalori dua kali lebih besar daripada berjalan," kata Didio.



Menjiplak

Setiap anak pasti suka kegiatan menggambar dan mewarnai. Mencampur dan mewarnai di atas kertas adalah kegiatan menyenangkan dan pengalaman ajaib untuk mereka. Tempelkan berlembar-lembar kertas pada lantai rumah. Lalu, biarkan anak menjiplakkan telapak kaki mereka yang penuh cat warna di kertas tersebut.

Permainan ini sangat sempurna untuk anak usia prasekolah dan anak usia 5-10 tahun. Permainan yang kelihatannya hanya senang-senang ini memberi kegunaan dalam membangun keseimbangan dan melatih anak olahraga kardiovaskular. "Selain itu, anak akan merasa sangat gembira saat dibolehkan menggambar dengan tangan dan kaki mereka," ucap Didio.



Meluncur

Anak-anak senang meluncur bebas di lantai, rumput, alat perosotan, dan sebagainya. Jangan larang mereka melakukan kesenangan tersebut karena aktivitas meluncur bebas bisa menjadi olahraga yang baik. Anak usia 5-10 tahun sangat ideal dilibatkan dalam permainan ini.

Untuk di rumah, cara bermainnya sederhana. Kenakan kaus kaki usang untuk si kecil dan meluncurlah di atas lantai tak berkarpet. Lapine mengatakan, manfaat tersembunyi permainan meluncur bebas adalah anak-anak melakukan kegiatan olah fisik dan juga membuat lantai bersih. (ozc/tin)

Memahami Penyebab Anak Sulit Konsentrasi

MULAI sekarang, berhati-hatilah para orangtua memakai gaya bahasa. Sebab, gaya bahasa negatif akan membuat anak stres yang berpengaruh buruk terhadap perkembangannya.

Ananda (36), paling sering uring-uringan melihat tingkah putrinya, Sisil (12). Betapa tidak, murid kelas 1 SMP ini kerap kali melakukan kesalahan yang terus berulang di mata Amanda. Beberapa kali Sisil tidak membawa kembali baju olahraga. Dia juga kerap lupa membawa kembali tas berenang dan sudah terjadi puluhan kali.

Hal yang paling membuat Amanda kesal adalah seminggu lalu ketika Sisil datang dari sekolah, ia memakai sepatu kiri dan sepatu kanan berbeda. Anehnya, Sisil tidak menyadari kesalahan itu. Di mata Amanda, keadaan ini sudah benar-benar parah. Seharusnya, anak seusia Sisil sudah tidak melakukan kekeliruan seperti itu.

Apalagi setiap Amanda menanyakan kepada Sisil soal keteledorannya itu, Sisil selalu ngotot dan mengatakan sudah membawa dan menaruhnya di mobil. Namun, bisa juga alasannya lupa dan tidak sengaja. Kalau Amanda berkata dengan nada marah, Sisil menangis dan cemberut.

Setelah kejadian itu, Amanda tidak tega dan pasti membelikan lagi peralatan yang hilang itu. Belum tuntas kekesalan Amanda, Sisil sudah melakukan hal yang membuat ibu muda itu lebih kesal lagi. Berikutnya, Sisil tidak ikut bimbingan belajar, tetapi malah pergi makan mi kuah ke sekolah. "Sopir bilang diancam sama Sisil untuk tidak bilang sama saya, dan tentu saja saya marah sama Sisil," tandas Amanda.



Beberapa Faktor

Apa yang dialami Amanda mungkin juga dialami oleh ibu-ibu lainnya. Menurut praktisi emotional intelligence parenting Hanny Muchtar Darta, keadaan seperti di atas pada umumnya sering terjadi dan berdasarkan pengamatannya, hal itu terjadi pada keluarga di kalangan menengah atas.

Umumnya kejadian itu disebabkan beberapa faktor. Antara lain karena banyaknya pembantu di rumah yang menghambat kemandirian anak sehingga segalanya telah dipersiapkan, gaya pengasuhan yang permisif, dan stres yang disebabkan emosi negatif sehingga membuat anak tidak konsentrasi.

Biasanya juga, anak stres karena emosi negatif yang tidak diekspresikan karena perasaan takut. Selain itu bisa karena beban pelajaran di sekolah, ditambah dengan les yang banyak untuk mengembangkan kecerdasan ganda anak atau multiple intelligence anak, mulai dari les bahasa, matematika, musik, hingga taekwondo.

"Alasan anak-anak menjadi sulit konsentrasi karena banyak faktor penyebab. Di antaranya pendekatan negatif dari pola asuh yang fokus pada masalah dan bukan fokus pada keinginan terbaik dengan menggunakan gaya bahasa negatif. Misalnya marah-marah saat anak terlihat tidak semangat belajar sehingga nilainya tidak baik," ujar Hanny.

Dikatakan, hasil penelitian di Amerika yang dilakukan Task Force for Personal and Social Responsibilities bahwa setiap harinya orang mendengar 432 kata atau kalimat negatif dan hanya mendengar 32 kata atau kalimat positif. Sebanyak 80% kata-kata itu menyakitkan sehingga membuat orang sulit untuk bangkit dan hanya sekitar 20% tahan terhadap pendekatan negatif itu tanpa memberikan dampak psikologis. "Dapat disimpulkan, sangat penting untuk berkomunikasi secara positif dengan anak-anak kita," katanya.



Lebih Besar

Menurut Elizabeth Hartley dan Brewer dalam buku "Happy Children Through Positive Parenting 2005", gaya bahasa negatif tidak saja membuat anak stres, tetapi dampaknya lebih besar daripada yang kita bayangkan. Gaya bahasa negatif bisa memengaruhi perkembangan anak secara negatif sehingga menghambat anak-anak untuk meraih segala potensi yang ada pada dirinya. Gaya bahasa negatif menyebabkan put down. Put down meliputi rasa direndahkan martabatnya, anak merasa kecil dan tidak penting, anak merasa tidak mampu, juga anak merasa jauh dari orangtuanya.

"Demikian besarnya dampak gaya bahasa negatif terhadap perkembangan anak dan juga kita sebagai orangtua karena semakin banyak menggunakan kata negatif akan merasakan emosi negatif pula," katanya.

Sementara Eric Robins MD mengatakan, 85% penyakit medis disebabkan emosi negatif. Tentunya gaya bahasa negatif yang menyebabkan orang merasakan emosi negatif salah satu faktor penyebab tidak sehatnya hubungan antara orangtua dan anak karena anak merasa tidak nyaman dan merasa ada jarak dengan orangtuanya. (ksi/nsa/tin)

http://www.balipost.co.id

Mengembangkan Kreativitas Imajinatif Anak



BANYAK orang tua berpendapat bahwa hanya bakatlah yang menentukan semua kreativitas pada anak, lebih-lebih di dalam bidang karya seni atau dalam keterampilan tertentu. Pendapat ini tentu beralasan.

Ambillah contoh, tanpa diperintahkan si anak sering melukis sesuatu dalam berbagai media, diawali mencorat-coret dinding kemudian melukis di kertas gambar. Dalam bidang tarik suara, misalnya, hanya dilatih sedikit saja si anak sudah dapat melantumkan tembang/lagu yang enak didengar. Bahkan, tanpa dilatihkan mereka melakukan kreativitas sendiri. Tegasnya, antara bakat dan hobi si anak saling mendukung.

Seorang anak tentu akan terus berkembang baik fisik maupun mentalnya. Sejalan dengan perkembangan fisik anak, daya imajinasinya pun berkembang menuju ke arah pendewasaan. Perkembangan fisik sangat ditentukan oleh gizi makanan, cara (pola) hidup di dalam keluarga, dan kondisi lingkungan tempat tinggal anak. Sedangkan perkembangan kreativitas imajinasi—apakah ke arah posisif atau negatif—anak sangat ditentukan oleh pola asuh, pendidikan dalam keluarga dan lingkungan sekitar anak, di samping bakat anak itu sendiri.

Pengembangan kreativitas imajinatif tentulah bukan sebatas karya seni. Kreativitas imajinasi juga mencakup kreativitas kecerdasan atau keterampilan yang lain. Seorang anak menjalankan mobil-mobilan dengan suara yang menderu-deru tentu termasuk imajinasi yang kreatif. Kemudian di gundukan pasir ia membuat replika jalan raya untuk tempat berlalu-lintasnya mobil-mobilan miliknya. Pada kesempatan lain ia membuat senapan dari dari pelepah daun pisang untuk dipakai perang-perangan. Seorang anak perempuan memotong kertas untuk dijadikan uang-uangan dalam kreativitas imajinasi dalam dagang-dagangan. Jelaslah semua kreaktivitas tersebut mengarah kepada pembentukan karakter secara posisitf sebagai manusia yang punya kreativitas.

Kondisinya sering berbeda, bahkan berbalik setelah anak menginjak usia remaja. Remaja laki-laki, sepeda motornya dipreteli kemudian digantikan dengan sesuatu yang bagi masyarakat umum, khususnya kalangan tua, sangat mengganggu ketertiban. Kreatvitasnya sudah mengarak ke hal yang kurang positif. Permasalahannya, mengapa kreativitas anak banyak yang tidak berlanjut ke arah yang positif menjelang usia remaja?

Tentu ada yang salah dalam pendidikan atau pola asuh terhadap anak. Ambillah contoh sederhana pada mainan anak. Tampaknya ada hubungan antara mainan buatan anak sendiri dengan mainan-jadi yang mudah dibeli. Sebab, zaman sekarang sebagian besar mainan anak adalah produk barang jadi yang dapat dibeli dan kebanyakan barang impor. Begitu mudahnya didapat mainan anak sehingga orang tua tidak merasa perlu mengarahkan si anak untuk membuat sendiri. Anak pun senang dibelikan mainan saat melihat ada main yang menarik perhatiannya di dagang/toko mainan.

Proses



Setelah anak bosan dengan mainan yang dibelikan itu, si anak akan memreteli mainannya itu sesuka hatinya, mungkin dengan maksud dibelikan lagi mainan yang baru. Ia tidak tahu apakah mainannya itu harganya mahal atau murah. Ia ingin mainan yang lain dan akan dibelikan. Setelah bosan dicopot atau dipreteli bagian-bagiannya. Jika sudah dicopot sana-sini barang mainan itu, boleh dikatakan si anak tidak ada hubungan batin dengan mainan yang harganya mahal itu.

Akan berbeda halnya jika mainan itu dibuatnya sendiri. Sampai mainan itu siap digunakan tentu memerlukan proses yang panjang. Mula-mula anak berpikir mainan apa yang akan dibuat, kemudian mulai mengumpulkan bahan. Berikutnya melangkah kepada proses pembuatan sampai siap digunakan. Kalau ia berhasil menyelesaikan mainan yang dibuatnya sendiri tentu mainannya itu akan menjadi barang kebanggaannya. Dalam pikirannya, “Saya mampu membuat mainan”. Siapa yang tidak senang dan sayang kepada barang buatannya sendiri? Hal itu akan menjadi kebanggan tersendiri. Hampir tidak ada anak yang merusak barang kebanggaannya. Kalau sianak sudah terpola memiliki sesuatu dengan proses, maka dapat dipastikan ia akan tumbuh menjadi orang yang punya rasa sayang dan penuh dengan rasa tanggung jawab.

Anak pun ingin menjadi bagian dari lingkungannya. Kalau ia melihat orang dewasa membuat ogoh-ogoh, misalnya, ia akan berkreatvitas dalam imajinasinya seperti orang dewasa itu. Mereka pun mulai bekerjasa sama dengan teman-temanya mencari sesuatu untuk membuat ogoh-ogoh. Anak-anak akan mengambil pisau, mencari bahan-bahan yang mudah didapat untuk membuat ogoh-ogoh. Jika ogoh-ogoh sudah selesai, mereka mengusungnya berkeliling rumah atau tetangga sekitarnya. Gambelannya pun digunakan dari apa saja yang didapat untuk bisa ditabuh dengan irama mereka. Dari sisi pembelajaran pembentukan karakter untuk memupuk kerja sama, si anak tidak akanbanyak membutuhkan bantuan pembelajaran dari orang tua. Pembelajaran mereka semuanya berawal dari kreativitas imajinasi. Kreativitas imajinasi anak tidak saja menumbuhkembangkan kecerdasan motorik, melainkan juga membangun karakter untuk belajar bekerja sama.

Dalam tumbuh-kembangnya kreativitas anak, sikap orang tua kadang menjadi penghambat pengembangan kreativitas. Menurut George Prasetya Tembong (2006), beberapa sikap orang tua yang dapat menghambat kreativitas anak. (1) Orang tua yang suka mengancam jika anak berbuat salah, gagal melakukan sesuatu. Ancaman ini akan membuat anak merasa tertekan untuk melakukan sesuatu yang yang baru. (2) Orang tua yang otoriter, yakni semua keputusan ditentukan oleh orang tua. Anak tidak boleh beda pendapat apalagi tidak setuju dengan keputusan orang tua. (3) Orang tua yang tidak toleran, yakni melarang anaknya bermain atau bergaul dengan anak dari keluarga yang berbeda paham, keyakinan, status sosialnya berbeda. (4) Orang tua yang terlalu ketat mengawasi anak sehingga sedikit-sedikit memberikan kritik yang kurang membangun. Dari pendapat Tembong ini, bukan berarti bahwa orang tua harus longgar dalam mengawasi anak. Di sini diperlukan komunikasi yang bijak antara orang tua dan anak.

Mirip dengan perilaku orang tua yang menjadi penghambat kreativitas imajinasi anak, di sekolah juga demikian. Guru terlalu mudah memberi ancaman kepada siswa, bersikap otoriter, memberi hukuman yang tidak mendidik, dan beberapa sikap yang kurang mendidik sering menghambat kreativitas anak. Misalnya, seorang anak yang berbeda pendapat dengan guru bukannya dipuji oleh guru sebagai suatu kreavitas berpikir, melainkan mendapat ancaman dan diberi label “anak kurang ajar”. Si anak dituduh kurang sopan kepada guru padahal kesalahan anak hanya pada penggunaan bahasa dalam menyampaikan perbedaan pendapat itu kepada gurunya. Sesungguhnya, tidak ada maksud anak kurang sopan kepada gurunya. Akhirnya, si anak mengalah membiarkan guru menang sendiri. Si anak takut kalau gara-gara berani beda pendapat dengan gurunya berakibat kepada nilai yang kurang baik diberikan dalam rapor.

Peran orang tua di rumah dan guru di sekolah, juga lingkungan, sangat menentukan tumbuh kembangnya kreativitas imajinasi anak ke arah yang positif. Dalam aktivitas pembelajaran, seorang anak tentu saja akan mengalami kesalahan dan kekeliruan. Yang baik dalam pendidikan itu tentu kesalahan si anak tidak mendapat cemoohan, melainkan dijadikan pengalaman yang berharga agar tidak terulang lagi di samping memberikan semangat, "Kamu pasti bisa".

IGK Tribana
http://www.balipost.co.id

Sabtu, 24 April 2010

Menjadi Orang Tua Efektif

Tidak ada sekolah untuk orangtua. DR. Frieda Mangunsong, MEd, Psi, yang sudah memiliki tiga anak dengan rentang usia remaja hingga dewasa pun merasa harus terus belajar menjadi orangtua. Ini karena menurutnya, tidak semua teori psikologi bisa diterapkan.Menjadi orangtua juga merupakan salah satu pekerjaan dengan job description yang rumit dan tidak jelas disertai tanggung jawab yang sangat besar. Untuk menjadi orangtua efektif, Anda harus terjun langsung dan belajar dari pengalaman.Tanggung jawab orangtua memang sangat besar. Di tangan orangtua, masa depan anak ditentukan. Baik dalam hal kepribadian, sosialisasi, penyesuaian dan pengendalian diri, kemampuan berpikir, dan hal-hal lain yang kelak akan menentukan keberhasilan dan kemandirian anak. Juga keberhasilan anak saat mereka menjadi orangtua.

Meski demikian, Frieda memberikan 10 kiat menjadi orangtua yang efektif. Kiat ini dapat digunakan para orangtua yang dua-duanya bekerja agar bisa memanfaatkan waktu yang terbatas dengan anak secara efektif dan efisien, maupun orangtua yang salah satunya tidak bekerja.

Mengenali anak
Orangtua harus memperlakukan anak sesuai karakternya, pemalu, periang, dan lain sebagainya. Jangan paksa anak untuk menjalani karakter lain. Kenali pula perasaan anak saat ia sedang mengalami masalah. Hal ini bisa dilakukan dengan berempati pada anak. Yang tak kalah penting, orangtua mesti mengenali perkembangan anak sesuai usia.

Hargai perilaku baik anak
Orangtua perlu menerapkan positive parenting, yaitu menghargai perilaku baik sebanyak-banyaknya dan menghukum sesedikit mungkin. Sebaiknya, orangtua memberikan pujian terhadap semua hal baik yang dilakukan anak. Hendaknya pujian diberikan langsung, tanpa ditunda. “Jangan menunggu hingga anak melakukan hal yang spesial,” kata ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI ini. Secara berkala, orangtua hendaknya memberikan sesuatu yang menyenangkan anak, misalnya memberi sesuatu yang disenangi anak bila ia melakukan tugasnya dengan baik atau menambah jangka waktu untuk mengembangkan perilaku baik.

Melibatkan anak
Anak termasuk dalam keluarga. Itu sebabnya, selalu libatkan anak dalam kegiatan dan keputusan keluarga. Contohnya, saat merencanakan liburan bersama. Anak juga perlu dilibatkan dalam tugas rumah sehari-hari yang tentu saja mesti disesuaikan dengan usianya.

Selalu mendekatkan diri dengan anak
“Gunakan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak,” ujar Frieda. Saat di perjalanan dan terjebak kemacetan, Anda bisa mengobrol lebih banyak dengan anak. Biasanya anak akan lebih terbuka dalam situasi seperti itu. Kemudian saat menonton televisi, orangtua sebaiknya mendampingi anak. Gunakan kesempatan itu untuk menanamkan nilai-nilai padanya. Penanaman nilai-nilai baik ataupun buruk, penting atau tidak penting, pada anak juga bisa dilakukan saat Anda sedang berjalan bersama anak.

Sediakan waktu khusus
Berikan waktu khusus hanya berdua dengan anak. Bila anak lebih dari satu, sediakan waktu khusus secara bergiliran. Lalu, sediakan pula waktu untuk kegiatan bersama.

Tegakkan disiplin
Melakukan positive parenting bukan berarti Anda mendiamkan sesuatu yang salah yang dilakukan anak. Anak perlu belajar atas perilaku yang bisa diterima, sehingga pendisiplinan perlu diterapkan. Disiplin harus ditegakkan segera setelah perilaku yang tidak baik dilakukan.

Cara pendisiplinan yang disarankan Frieda adalah dengan teknik time out dan grounded, yang bisa efektif bila diterapkan dengan tepat. Time out bisa diberikan dengan mendiamkan anak atau orangtua tidak memberi reaksi apa-apa kepada anak. Tindakan ini merupakan respon orangtua atas perilaku anak yang tidak diinginkan. Pada saat itu orangtua bisa keluar ruangan dan anak berada di dalam ruangan. Anak juga bisa dijauhkan dari aktivitasnya.

Sementara untuk grounded, anak diharuskan menyelesaikan satu tugas untuk bisa mendapat kesenangannya lagi. Contohnya, bila anak suka menonton film Sponge Bob dan ia tidak mau mandi, orangtua bisa melakukan grounded. Kalau tidak mandi, tidak boleh menonton Sponge Bob. Setelah mandi, anak boleh keluar kamar dan menonton film tersebut.

Pendisiplinan ini perlu dilakukan secara konsisten dan harus selalu didasarkan pada perilaku anak. Teknik pendisiplinan yang sama juga perlu diterapkan bila anak melakukan perilaku yang sama lagi. Namun, orangtua sebaiknya tidak langsung memberikan sanksi apabila anak baru melakukan perilaku tidak baik pertama kali dan belum pernah diberitahu sebelumnya bahwa perilakunya itu buruk.

“Dan pastikan teknik pendisiplinan yang sama dilakukan oleh pasangan dan orang-orang di rumah saat orangtua tidak di rumah,” kata Frieda.

Panutan bagi anak
Anak adalah peniru ulung. Segala gerak-gerik orangtua akan ditirunya. Anak belajar cara beraksi terhadap berbagai hal melalui pengamatannya pada perilaku orangtua. Agar anak dapat menerapkan perilaku yang baik, orangtua mesti mencontohkannya terlebih dulu dalam kehidupan sehari-hari.

Say “I love You”
Kasih sayang mestilah diungkapkan. Frieda menyarankan para orangtua untuk mengungkapkan kasih sayang dengan kata-kata seperti I love you, belaian, pelukan, ciuman, tulisan “ayah/ibu sayang kamu,” atau gambar bunga atau hati.

Komunikasi dengan tepat
Saat berbicara dengan anak, orangtua harus melakukan kontak mata dengan mereka. Bila ingin memberikan perintah, berikan sespesifik mungkin. Perintah dengan arti yang sangat umum akan membingungkan anak. Hindarkan pula membentak, mengomel, berteriak, atau berceramah panjang lebar kepada anak.

Selesaikan masalah saat Anda “dingin”
Bila ada masalah, hendaknya tidak diselesaikan saat Anda sedang marah. Bila hal ini dilakukan justru akan memperburuk keadaan. Biasanya, saat marah kontrol diri Anda cenderung lebih rendah, sehingga sangat mungkin Anda melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak diharapkan dapat ditiru anak. Bisa pula, pada saat itu keluar kata-kata yang akan menyakitkan dan membekas pada anak. Saat Anda marah, Anda juga perlu time out untuk menenangkan diri.

Tidak ada orangtua yang sempurna. Yang penting untuk menjadi orangtua efektif adalah apa yang Anda lakukan sejalan dengan waktu.

Sumber: Gaya Hidup Sehat Online.

Mengenal Cara Belajar Individu

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi “pintar”. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.


Otak Sebagai Pusat Belajar

Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.



Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.
Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.
Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi “pintar” sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual


Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



rapi dan teratur

berbicara dengan cepat

mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik

teliti dan rinci

mementingkan penampilan

lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual

memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik

biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar

sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)

merupakan pembaca yang cepat dan tekun

lebih suka membaca daripada dibacakan

dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.

jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara

lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak’

lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah

lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik

seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata













2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial





Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja

mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik

lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca

jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras

dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara

mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita

berbicara dalam irama yang terpola dengan baik

berbicara dengan sangat fasih

lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya

belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat

senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi

lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya

lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik









3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



berbicara dengan perlahan

menanggapi perhatian fisik

menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka

berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain

banyak gerak fisik

memiliki perkembangan otot yang baik

belajar melalui praktek langsung atau manipulasi

menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung

menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca

banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)

tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama

sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut

menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

pada umumnya tulisannya jelek

menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)

ingin melakukan segala sesuatu



Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat. (jp)



Oleh: Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi.

BAKAT : MUTIARA TERSEMBUNYI YANG TERUS-MENERUS HARUS DIGALI

INTRODUCTION.

Dalam bilangan waktu yang relatif tidak sedikit, ikhtiar manusia terus menerus dari satu generasi menuju generasi berikutnya selalu mengalami suatu perkembangan. Betapa optimisnya para peneliti kelas dunia untuk menemukan suatu metode yang dapat mengenali bakat seseorang. Dengan segenap semangat dan bekal keilmuannya yang telah teruji dibidangnya mereka selalu mengadakan penelitian yang tidak pernah mengenal putus asa. Mereka sadar bahwa untuk mendapatkan semuanya itu mereka tidak bisa bekerja secara sendirian. Mereka bekerja sama antar ahli di berbagai bidang. Ahli ilmu faal, ahli ilmu psikologi, agamawan dan ahli teknologi komputerisasi. Akhirnya ditemukanlah suatu metode untuk mengenali Bakat / Potensi Otak Kanan dan Otak Kiri serta mengenali Potensi Kecerdasan. Dan metode itu adalah ”DERMATOGLYPIC MULTIPLE INTELLIGENCE” atau metode DMI. Penemu teori Multiple Intelligence (MI) adalah bapak Howard Gardner, sedangkan penemu aplikasi MI di dalam kelas pembelajaran adalah bapak Thomas Armstrong. Dan penemu pendalaman / penelusuran bakat berbasis MI. Barang siapa orang berilmu, ia akan dinaikkan sederajat lebih tinggi dari yang lain dan jangan lihat siapa bicara, tetapi lihatlah apa yang dibicarakannya. Dan sungguh Allah menciptakan segala sesuatunya itu tidak ada yang sia-sia dan Allah Maha Kasih dan Penyayang. Karena itulah ilmu pengetahuan dan teknologi terus menerus akan dikembangkan dan dioptimalkan guna menemukan bakat yang ada pada diri seseorang. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet, 1952). Bakat merupakan potensi, sehingga tanpa pengembangan yang berarti (internal dan eksternal) tidak akan menjadi suatu prestasi. Sebaliknya pengembangan yang sangat berarti sekalipun tidak akan optimal kalau diberikan kepada seseorang yang tidak memiliki bakat yang memadai. Keduanya bisa mencapai prestasi optimal bila ada kesesuaian.



PENCARIAN YANG TERARAH


Terkadang suatu usaha untuk mencari benda yang kasat mata saja terasa sulit apalagi mencari sesuatu yang tidak nampak oleh mata. Bakat adalah sesuatu yang tidak begitu saja nampak oleh pencermatan mata kita. Maka ada banyak cara seseorang untuk mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi bakatnya itu. Ada yang menggunakan serangkaian tes psikologi. Ada yang melakukan pengamatan langsung terhadap perilaku dalam kesehariannya. Ada yang melalui pencapaian suatu prestasi yang pernah diraihnya. Ada yang melalui jenis golongan darahnya. Ada yang melalui bintang kelahirannya. Dan kali ini adalah melalui sebagian anggota tubuh kita yaitu melalui kesepuluh sidik jari tangan. Dari banyaknya ragam pencarian bakat yang ada selama ini kesemuanya menunjukkan adanya arah dan kemauan yang keras. Tinggal bagaimana kita memilihnya. DMI salah satu alternatif pencarian bakat yang berbasis teknologi terkini melalui sidik jari seseorang, dimana sidik jari antar orang akan berbeda-beda sebagaimana berbedanya bakat antar sesama kita. Semakin sulit sesuatu itu untuk dicari (termasuk bakat), maka semakin ia membutuhkan bantuan dari banyak pihak, bahkan juga dari banyak cara. Teknologi yang canggih dan keilmuan yang mumpuni. Tidak jarang juga membutuhkan tenaga yang banyak terkadang juga biaya yang relatif sangat tinggi. Tetapi semuanya itu tidak begitu menjadi masalah asalkan ia mendatang sesutau yang bermanfaat dan dapat menyingkat waktu menjadi cepat !



MEMBACA PETA POTENSI DAN BUKAN MERAMAL

Dengan tes DMI ini, kita akan bisa membaca dengan baik apa sesungguhnya yang menjadi potensi unggulan pada diri kita. Tes DMI bukanlah suatu ramalan, melainkan suatu upaya untuk membaca ”Peta Potensi Diri” kita. Ibarat seseorang akan menuju ke luar kota, dimana orang tersebut belum mengenali dengan baik jalan yang akan dilaluinya, maka akan lebih efektif apabila orang tersebut memiliki peta yang dapat dipercaya akan mengantarkan ia pada suatu tujuan yang akan dicapai.

IKHTIAR DAN BUKAN MEMBERI VONIS

Tes DMI adalah suatu ikhtiar yang berbasis ilmu dan teknologi. Sebagaimana ikhtiarnya kita selama ini tentang penggolongan darah yang ada pada tubuh kita, ada golongan darah A, B dst. Sebagaimana juga datangnya seseorang yang sedang sakit pada seorang dokter. Dia tidak sedang mencari ”kepercayaan lain” selain kepada Tuhannya. Dia juga tidak sedang mencari jaminan bahwa dirinya pasti sembuh. Tetapi sesungguhnya orang yang sakit itu sedang mencari obat dan berikhtiar. Demikian juga sang dokter tidak sedang mendahului maunya sang Maha Pencipta juga tidak sedang memberikan vonis bahwa sang pasien tersebut pastilah sembuh dan atau pastilah akan meninggal dunia. Ikhtiar disemua bidang sangatlah dibutuhkan.

MEMILIH PENDIDIKAN SEMAKIN MANTAP DAN EFEKTIF

Tentu dengan menggunakan jenis tes pengenalan bakat yang diyakini seseorang, maka langkah berikutnya bagi mereka akan lebih mantap dalam menentukan pilihan pendidikannya. Ia tidak akan menoleh kekanan dan kekiri lagi. Ia akan lebih fokus, dengan demikian maka ia akan lebih efektif pula dalam menguasai ilmu pilihan yang dipelajarinya itu. Sehingga usia yang kurang dari seratus tahun ini, kelak akan bisa kita lalui dengan sesuatu yang lebih padat, terarah dan berisi, lebih efektif dan lebih produktif dari yang seharusnya bahkan akan lebih dari yang lainnya. Maka tes DMI ini sangat cocok juga untuk anak usia pra sekolah (PAUD), anak usia sekolah dan para mahasiswa.

MEMILIH BIDANG BISNIS / BIDANG PEKERJAAN SEMAKIN MENYENANGKAN DAN PRODUKTIF

Secara tradisional (kalau tidak boleh dikatakan secara primitif) sebenarnya ada beberapa indikator atau parameter seseorang itu melakukan sesuatu sesuai bakatnya atau tidak. Pertama, ia penuh rasa riang gembira ketika melakukan sesuatu. Kedua, ia melakukannya sendiri tanpa harus didorong-dorong oleh pihak manapun. Ketiga, ia tidak mudah putus asa dan tidak mudah jenuh pada kondisi apapun saat melakukan sesuatu itu. Untuk itu ketika seseorang tidak menjumpai ketiga indikator itu pada dirinya, maka sebaiknya ia mencari suatu alternatif untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi bakat bagi dirinya. Jangan sia-siakan sisa usia yang hanya sesaat itu. Jangan rusakkan karir yang kita miliki hanya karena kita jenuh. Jangan bengkalaikan bisnis yang kita tekuni selama ini hanya karena kita jenuh. Pastikan dimana bakat, potensi dan kemampuan kita yang sebenarnya. Dengan bisa mengetahui bakat yang sebenarnya seseorang akan semakin senang menghadapi bisnis atau pekerjaannya dalam kondisi apapun dengan demikian ia tentu akan lebih produktif dari yang senyatanya.


Oleh : Drs. Teguh Sunaryo
http://pgboge.wordpress.com/2008/11/26/bakat-mutiara-tersembunyi-yang-terus-menerus-harus-digali/